Efek Mozzart


Adalah Masuro Imoto yang mengadakan riset mengenai hubungan musik keras dengan terbentuknya kristal dalam air. Imoto-san memutar musik berirama keras, ternyata tak terbentuk kristal dalam air. Dengan musik berirama lembut, air membentuk kristal-kristal (heksagon). Dalam diri manusia, 70%-nya terdiri dari air. Jadi, kalau ia mendengar musik keras, kristal-kristal tak akan terbentuk. Sebuah penelitian di Inggris mengungkapkan hasil yang mengejutkan, yakni: musik keras berdampak pada jiwa yang keras pula.

Di kampung nelayan Cilincing, Jakarta Utara, seorang dokter dikabarkan membagikan kaset musik lagu klasik kepada para ibu hamil yang memeriksakan kesehatan di puskesmas tempat sang dokter betugas. Hasilnya? Bayi-bayi yang ketika dalam kandungan diperdengarkan lagu-lagu berirama klasik ternyata mengalami kemajuan dalam kemampuan verbal dan motorik mereka.

Nah, orang pun mulai meyakini keterkaitan musik klasik dengan perkembangan kejiwaan anak. Sebuah buku yang terbilang kontroversial, Matinya Efek Mozart, karya Djohan Salim, Penerbit Galang Press, Yogyakarta, 2007, menyebutkan Francis Rauscher dan Gordon Shaw adalah dua pertama yang pada 1993 melaporkan bahwa mendengar (ataupun mendengarkan) Sonata in D Mayor untuk duo piano karya Mozart selama 10 menit, dapat meningkatkan kemampuan siswa sekolah menengah dalam memecahkan masalah spasial temporal.

Sungguh menarik membaca kisah bahwa selama satu dekade, apa yang dinamakan efek Mozart (EM) telah berkembang menjadi mode atau endemi yang dipercaya mampu meningkatkan kecerdasan bayi dan anak oleh sebagian pendidik musik dan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Don Campbell, penulis buku The Mozart Effect, dianggap orang pertama yang menyebarluaskan pengaruh EM ke seluruh dunia, hingga EM menjadi tren dan mode yang dipercaya sekaligus dikagumi. Salah satu faktor yang mendorong EM begitu dikagumi adalah hasil penelitian yang menunjukkan bahwa struktur musik Mozart sama dengan pola otak manusia. EM juga dipercaya sebagai stimulan yang ampuh untuk mencerdaskan janin dalam kandungan, ketika ibu sedang hamil diperdengarkan musik Mozart.Erie Setiawan, peresensi Matinya Efek Mozart (Kompas, 25 Maret 2007, halaman 11), menulis: “Pengarang ingin membuktikan bahwa musik Mozart bukanlah segala-galanya. Orang dianggap terlalu naif apabila hanya memercayai EM semata tanpa berusaha mengerti bahwa kecerdasan adalah proses pembelajaran secara kontinu ketika berevolusi dalam kehidupan, yang tidak (mudah) diraih hanya dengan mendengarkan sonata Mozart.”Salah satu kritik dari para ilmuwan adalah mungkin saja musik Mozart dapat memberi dorongan yang kuat pada orang tertentu. “Tetapi amat tergantung pada gender, citarasa musikal, latihan, kemampuan spasial, dan latar belakang budaya” (halaman 61).Dengan elok penulis Matinya Efek Mozart ini menyatakan: “Sekali lagi, karya besar musik Mozart sama sekali tidak berkaitan dengan hal menjadi cerdas atau mendatangkan kekuatan. Musiknya adalah berbicara tentang bagaimana menjadi manusia dan hidup.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: