Bibit Bebet, Bobot


Bibit bebet dan bobot adalah parameter yang digunakan oleh orang jawa (atau khususnya para orang tua jawa) dalam menentukan calon menantu, baik dari pihak perempuan maupun laki-laki. Falsafah ini sebetulnya lahir berdasarkan kebutuhan atau lebih tepatnya kekawatiran para orang tua atas kelangsungan hidup perkawinan anak-anaknya.

Bibit berarti pihak orang tua ingin memastikan bahwa sang calon menantu berasal dari sebuah keluarga baik-baik. Pengertian baik disini lebih kepada keluarga yang telah mampu memberikan pendidikan (yang diharapkan) terbaik bagi anak-anaknya. Pendidikan disini diharapkan tidak hanya bertumpu pada sisi akademis saja, tetapi juga dalam hal moralitas, begitu juga suri tauladan (yang diusahakan) terbaik dari pihak orang tua kepada anak-anaknya.

Para orang tua jawa mempercayai bahwa anak yang baik adalah sebuah produk dari keluarga yang baik, dan bukan sebaliknya!

Bebet adalah kondisi ekonomi bagi calon menantu, yang diharapkan juga bisa menanggung kehidupan rumah tangga mereka nantinya.
Kondisi keuangan yang baik mutlak diperlukan bagi setiap calon mempelai yang akan segera membangun rumah tangga yang baru.

Bobot, adalah konsepsi tentang kualitas yang dipertontonkan oleh sang calon menantu. Hal ini lebih berkaitan dengan kualitas dirinya sendiri sebagai manusia. Seberapa dalamkah ia sebagai manusia sudah mau belajar dan menjadi terpelajar karenanya.

Begitulah, konsepsi manusia jawa tentang bibit, bebet dan bobot yang sebetulnya lebih mengarah kepada kesiapan seseorang secara kompleks dan komprehensif dalam menuju perkawinan (yang sebetulnya lebih berfungsi sebagai gerbang pengecekan masing-masing kualitas itu).

Tetapi repotnya, ketika aplikasi dari falsafah itu disesuaikan dengan selera masing-masing keluarga. Ketika Bibit lebih mengarah kepada hanya kekayaan materi serta status sosial yang telah diperoleh orang tua calon menantu dan Bebet lebih menjadi keutamaan materi sang calon menantu yang dicari dan didamba secara membabi buta tanpa lagi memperdulikan kualitas kematangan karakter yang lainnya.

Lalu bagaimana dengan bobot, wah yang ini sama saja, ia juga mengalami penyempitan dan pengerdilan makna yaitu tidak lebih dari sekedar pendewaan gelar dan kulitas akademis yang secara simbolis terpampang dalam berbagai gelar yang telah dikumpulkan.

Kualitas manusia dipersempit menjadi sekedar bukti-bukti akademis yang terlihat meyakinkan, jadi hanya kualitas intelektualitasnya yang diperhatikan bukannya kualitasnya sebagai manusia secara utuh.
Begitulah, sebuah konsepsi yang tadinya bercita-cita luhur yaitu memilihkan yang terbaik bagi sang anak tercinta terpeleset menjadi yang terbaik buat orang tua🙂 Para orang tua hendaknya harus bisa melakukan semua proses yang berkaitan dengan falsafah ini dengan berkepala dan berhati dingin, agar kelak si anak yang menjadi pelaku utama hidup perkawinannya tidak menyesal dikemudian hari melainkan menemukan kebahagiaan yangs sejati lewat pernikahan yang dilakukan dengan pasangan yang memang sesuai dengannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: