Mind Map


Oleh: Dewina

Mind Map adalah cara termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi ke luar dari otak. Mind Map adalah cara mencatat yang kreatif, efektif, dan secara harfiah akan “memetakan” pikiran-pikiran kita.

Mind Map merupakan peta rute yang hebat bagi ingatan, memungkinkan kita menyusun fakta dan pikiran sedemikian rupa sehingga cara kerja alami otak dilibatkan sejak awal. Ini berarti mengingat informasi akan lebih mudah dan lebih bisa diandalkan daripada menggunakan teknik pencatatan tradisional.

Beberapa jenius besar dikenal sebagai orang-orang yang menggunakan unsur-unsur utama mind map untuk menjadikan pikiran-pikiran mereka kasat mata, dan dengan demikian membantu mereka sendiri dan orang lain membuat lompatan-lompatan besar ke depan dalam bidang ilmu mereka. Mereka antara lain :

Leonardo da Vinci : dalam buku catatannya, seorang Leonardo da Vinci menggunakan gambar, diagram, simbol, dan ilustrasi sebagai cara untuk menangkap pikiran-pikiran yang bermunculan di otaknya dan mencurahkannya ke kertas. Gambar-gambar ini membantu Leonardo menjelajah pikirannya dalam bidang seni, ilmu faal, permesinan, akuanautik, dan biologi.

Bagi Leonardo, bahasa kata-kata berada di tempat kedua susudah bahasa gambar dan digunakan untuk memberi label, menunjukkan, atau menjelaskan pikiran dan penemuan kreatifnya – alat utama untuk pemikiran kreatifnya adalah bahasa gambar.

Galileo Galilei : Galileo adalah seorang pemikir kreatif jenius dunia, yang di akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17, membantu merevolusi ilmu dengan menggunakan teknik pencatatannya sendiri. Sementara rekan-rekan semasanya menggunakan pendekatan verbal dan matematikal tradisional untuk menganalisa masalah-masalah ilmuah, Galileo menjadikan pikirannya kasatmata melalui ilustrasi dan diagram, seperti halnya Leonardo.

Juga seperti Leonardo, Galileo adalah seorang pemimpi besar. Menurut “legenda lampu” yang terkenal, Galileo sedang tertegun diam mengamati lampu-lampu yang berayun-ayun di Katedral Pisa ketika mendapat pengalaman “Eureka!”. Galileo menyadari, terlepas dari berapapun kisaran ayunan sebuah lampu, lampu-lampu itu selalu membutuhkan waktu yang sama untuk menyelesaikan satu osilasi. Galileo mengembangkan pengamatan “isokronisme” ini ke Hukum Pendulum-nya, menerapkannya kepada penentuan waktu dan perkembangan jam pendulum.

Richard Feynman : dia adalah seorang fisikawan pemenang Hadiaj Nobel, yang ketika masih muda menyadari bahwa imajinasi dan visualisasi adalah bagian terpenting dari proses pemikiran kreatif. Dengan begitu ia memainkan permainan-permainan imajinasi dan belajar menggambar.

Seperti juga Galileo, Feynman tidka meniru rekan-rekannya yang melakukan pencatatan yang lebih tradisional, dan memutuskan menempatkan seluruh teori kuantum elektrodinamik ke bentuk visual dan diagramatik yang baru. Ini menjurus ke pengembangan diagran Feynman yang sekarang terkenal itu – representasi ganbar dari interaksi partikel, yang sekarang digunakan murid di seluruh dunia untuk membantu mereka memahami, mengingat, dan menciptakan ide-ide dalam realisme fisika dan ilmu umum.

Feynman begitu bangga pada diagramnya sehingga mengecatnya di mobilnya!

Albert Einstein : Albert Einstein, si jenius abad ke -20, juga menolak bentuk-bentuk linear, numerik, dan verbal pemikiran kreatif. Seperti Leonardo dan Galileo sebelum dirinya, Einstein percaya bahwa alat-alat ini berguna tetapi tidak perlu, dan yang jauh lebih penting adalah imajinasi. Katanya : “imajinasi lebih penting daripada pengetahuan karena imajinasi tidak terbatas”. Einstein berpikir secara diagramatis dan skematis untuk mengungkapkan falsafah ilmiahnya.

Mind Map membantu kita belajar, menyusun, dan menyimpan sebanyak mungkin informasi yang kita inginkan, dan mengelompokkannya dengan cara yang alami, memberi kita akses yang mudah dan langsung kepada apapun yang kita inginkan.

Mind Map memiliki kekuatan lain : mungkin kita berpikir bahwa semakin banyak informasi yang kita masukkan ke kepala, akan semakin sesak kepala kita dan akan semakin sulit menarik kembali suatu informasi. Mind Map menjungkirbalikkan pemikiran ini.

Dengan Mind Map, setiap potong informasi baru yang kita masukkan ke perpustakaan kita otomatis “dikaitkan” ke semua informasi yang sudah ada disana. Semakin banyak kaitan ingatan yang melekat pada setiap potong informasi dalam kepala kita, akan semakin mudah kita “mengait keluar” apapun informasi yang kita butuhkan.

Dengan Mind Map, semakin banyak kita tahu dan belajar, akan semakin mudah belajar dan mengetahui lebih banyak.

Sumber:
Dewina is a Life Explorer
PKAB

2 Responses to Mind Map

  1. pkab says:

    Dear Ayahanda Parisya,

    Silahkan membantu menyebar luaskan pengetahuan tentang pemetaan konsep dari pkab.wordpress.com di sini.

    Saya juga tertarik untuk mengetahui hasil bila Parisya kita didik dengan menggunakan peta konsep semenjak kecil. Yaitu dari mulai ia mulai bisa menggambar (corat-coret dengan pinsil warna) dan mengerti sedikit konsep (umur 4 atau lebih awal). Misal dimulai dari konsep air: yang bisa berwujud es, cair, uap air. Atau konsep2 yang sehari2 ia temui.

    Semoga Parisya menjadi anak yang berbakti kepada Tuhan, Negara dan Orang Tua.

    Salam,
    PKAB

  2. Bambang W says:

    Salam kenal,
    Boleh saya copy artikelnya . . . untuk bahan pengajaran SMP Terbuka yang saja ajar.
    Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: